STT SETIA Bakal Polisikan Oknum Ngaku Keluarga Korban

setia

JAKARTA, mediaaras.com – Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (STT SETIA) berencana melaoporkan oknum-oknum yang mengaku-ngaku sebagai alumni dan orangtua dari alumni STT SETIA sebagai korban atas kasus dugaaan ijazah palsu Program Guru Sekolah Dasar (PGSD). Selain itu, mereka juga meminta polisi menangkap dan memproses orang-orang, segerombolan massa yang mengaku-ngaku sebagai keluarga korban.

Hal itu dikatakan Rektor sekaligus pendiri STT SETIA dan GKSI, Pdt, Dr, Matteus Mangentang kepada mediaaras.com saat ditemui di sebuah restauran di bilangan Kwitang, Jakarta Pusat beberapa hari yang lalu.

Menurut Matteus, mereka telah merugikan nama baik STT SETIA dan dirinya dengan membuat berita atau informasi ke publik, terlebih karena itu disiarkan oleh beberapa media, khususnya media Televisi.

“Sayangnya media Televisi itu tidak membuat pemberitaan berimbang, kita sudah minta hak jawab untuk klarifikasi tetapi belum ditanggapi. Bila dalam waktu tertentu tidak ditanggapi juga, kami berencana mengadukan media tersebut ke Dewan Pers,” ujar Matteus tanpa mau menyebut nama medianya.

Sepandangan dengan Matteus, saat aksi damai dari ratusan alumni dan mahasiswa STT SETIA di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur (Jaktim), para peserta aksi meneriakan “Bebaskan Pak Matteus dan Ernawati Simbolon” dari jeratan hukum karena beliau orang baik korban kriminalisasi dari oknum atau pihak-pihak yang punya tujuan ingin menguasai aset SETIA yang saat ini tengah bersengketa di MA.

“Pak Matteus adalah bapak penolong bagi kami pemuda desa dari keluarga miskin untuk bisa sekolah dan menjadi sarjana. Sementara pelapor bukanlah siapa-siapa,” kata seorang alumni dari Kalimantan Barat dalam orasinya dari mobil komando, Senin (4/6/2018).

Orator lainnya dari mahasiswa mengatakan bahwa, hakim PN Jaktim harus menggunakan mata dan hati dalam mengadili dan membuat keputusan dalam sidang perkara. Pasalnya, pelapor kerap membawa massa yang bertampang seram dan bertindak brutal yang kerap menakut-nakuti dan menganiaya secara pisik maupun mental kepada mahasiswa yang datang ke tiap proses persidangan untuk mendukung Matteus dan Ernawati.

“Dugaan kami, mereka itu (massa pendukung pelapor) adalah massa bayaran, para preman. Lihat aja kelakuan dan tampangnya, beringas dan seram-seram. Mereka kerap melakukan presure, tekanan atau intimidasi di tiap persidangan, termasuk mendesak Ketua Pengadilan mengganti Hakim Ketua,” katanya.

“Kami datang ke sini tidak dibayar, dengan tulus hati karena pak Matteus dan Ibu Ernawati adalah penolong bagi kami orang miskin dari desa untuk mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan, menjadi sarjana dengan gratis,” tambahnya.

Dalam aksi itu, mereka meminta aparat kepolisian yang hadir di situ untuk mengawasi secara ketat dan seksama para massa dari pelapor. “Kalau kami pasti tertib, kami orang baik-baik, calon pendeta dan guru dengan misi pelayanan ‘Menjangkau yang tak Terjangkau’.,” imbaunya.

Perkataan orator dari mahasiswa tersebut terbukti, massa mahasiswa dan aluni STT SETIA berprilaku tertib. Mereka berhenti sejenak saat azan berbunyi untuk menghormati umat Muslim beribadah. Usai waktu sholat, aksi mereka lanjutkan kembali, dan sesuai ijin aksi yang sampai pukul 15:00, mereka bubar tertib menutup aksi damainya tepat pukul 14:45 serta lokasi sekitar aksi bersih dari sampah. (ARP)

Bagikan Artikel ini !

Related posts

Leave a Comment