Seribuan Mahasiswa STT SETIA Gantungkan Nasibnya ke Hakim PN Jaktim 

seribuan
JAKARTA, mediaaras.com — Seribuan mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia Injili Arastamar (STT SETIA) menggantungkan nasibnya ke tangan Hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim). Mereka terancam putus kuliah apabila Rektor dan Direktur Pendidikan mereka divonis penjara oleh hakim atas kasus yang sebenarnya dibuat-buat oleh pihak yang ingin menguasai aset STT SETIA.
seribuan
Hal itu terdengar dari  seruan dari sekitar 300-an mahasiswa dan alumni STT SETIA yang melakukan aksi damai di depan halaman kantor PN Jaktim, Senin (4/6/2018).
“Bebaskan Rektor sekaligus pendiri STT SETIA, Matteus Mangentang dan Direktur Pendidikan, Ernawati Simbolon dari jeratan hukum yang kami nilai mengada-ngada dari oknum yang punya tujuan tidak baik terhadap kami. Stop kriminalisasi terhadap kami (STT SETIA) dan Matteus Mangentang,” kata orator aksi damai dari atas mobil komando.
seribuan
Dalam aksi damai tersebut datang para alumni dari berbagai daerah di Indonesia seperti dari Kalbar, NTT, Nias, Papua dan Sulsel. mereka pun meminta hakim membebaskan Pdt, Dr, Matteus Mangentang. Pasalnya, Matteus mereka nilai sebagai sosok tokoh pendidikan yang memberikan kesempatan kepada pemuda miskin dari desa pedalaman dan tertinggal. Dalam orasinya, seorang alumni angkatan pertama STT SETIA dari Kalimantan Barat, Lajib mengatakan bahwa Matteus telah banyak berkontribusi mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara melalui aspek pendidikan.
“30 tahun yang lalu, Saya yang dari keluarga miskin dari desa di Kalimantan Barat bisa jadi sarjana dan Pegawai Negeri karena pak Matteus Mangentang dengan memberikan pendidikan gratis,” katanya.
Diketahui, untuk kuliah di STT SETIA, setiap mahasiswa yang mengambil Program Pendidikan (Prodi) Teologia dan Pendidikan Agama Kristen (PAK) hanya membayar uang makan per-bulan Rp.250.000,-. Mereka diwajibkan tinggal di asrama dan setelah lulus melakukan misi pelayanan ke desa-desa pedalaman wilayah pelayanan STT SETIA dan GKSI, yang salah satunya adalah mengajar sebagai guru di sekolah-sekolah yang didirikan SETIA di pedalaman. Bagi mahasiswa yang tidak mampu namun punya keinginan dan cerdas, tidak mampu membayar uang makan bulanan dan biaya kebutuhan sehari-hari, Matteus mencarikan donatur atau sponsor.
seribuan
Untuk menambah skill lulusan STT SETIA agar mampu mengajar, pihak rektorat menyertakan mahasiswanya mengikuti pendidikan tambahan yakni Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Kepada mereka yang telah mengikuti pendidikan tambahan ini diberikan sejenis sertifikat atau ijazah sebagai tanda kelulusan. Rektorat menyampaikan bahwa ijazah PGSD tersebut tidak dapat dipakai untuk melamar kerja apalagi jadi PNS.
“Bahwa bapak kami (Matteus) dikerjai oleh oknum yang punya kepentingan lain, yaitu menuntut materi. Pak hakim harus melihat ini,” lagi kata orator lainnya dari alumni asal NTT.
Nah, ijazah PGSD inilah yang diadukan oleh pelapor, Frans Ansanay untuk menuntut secara hukum Matteus Mangentang dan Ernawati Simbolon karena dianggap palsu. Frans sendiri bukanlah korban atau anggota keluarga dari alumni yang mengaku sebagai korban ijazah palsu PGSD karena tidak bisa mereka gunakan untuk melamar sebagai PNS.
“Bahwa bapak kami (Matteus) dikerjai oleh oknum yang punya kepentingan lain, yaitu menuntut materi. Pak hakim harus melihat ini,” lagi kata orator lainnya dari alumni asal NTT.
Diceritakan koordinator aksi, Orent Siregar, pelapor Mangentang, Frans Ansannay sudah 3 kali menggugat secara hukum STT SETIA terkhusus Mangentang ke PN berbeda dengan kasus berbeda dan selalu kalah. Frans sendiri selalu menggunakan surat kuasa dari orang yang mengaku korban ataupun lembaga.
“Kasus ini (di PN Jaktim) mengada-ngada alias dibuat-buat karena tujuannya untuk menekan Mangentang. Dia pelapor (Frans) tidak akan berhenti menggangu STT SETIA atau pak Matteus sampai tujuannya yang tersembunyi tercapai. Dia sendiri alumni STT SETIA dan dengan Ijazah dari SETIA menjadi PNS DKI Jakarta,” tandasnya. (ARP)

Bagikan Artikel ini !

Related posts

Leave a Comment