HUT Ke-56 GAMKI Ajak Generasi Milineal Siap di Era Digital

gamki

JAKARTA, mediaaras.com — Dalam Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT)-nya yang ke -56 (23 April 1962-2018), Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI) mengajak pemuda Indonesia, khususnya para pemuda kristiani dan anggota GAMKI untuk mempersiapkan diri di era digitalisasi saat ini.

Dalam sambutanya, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat DPP GAMKI, DR, Michael Wattimena, M.M mengatakan, sebagai pemuda saat ini yang merupakan generasi Milineal harus keluar dari zona nyaman dan berpikir Out Of Box agar mampu bersaing di era yang serba digital saat ini.

“Pergumulan kaum muda Indonesia saat ini antaranya tidak mau keluar dari zona nyamannya. Hal itu menimbulkan kemunduran bagi peradaban dan masa depan Indonesia,” kata Michael yang juga Wakil Ketua Komisi V DPR RI ini di Gedung LAI, Salemba, Jumat (27/4/2018) malam.

Menurut Michael, karena perannya yang sangat penting dan strategis, pemuda harus mampu melakukan sesuatu yang baru dan berbeda yang positif. Pemuda harus sigap dengan perkembangan jaman, mampu melihat peluang dan terus mengembangkan kemampuan diri.

“Bung Karno, Founding Father kita pernah berkata; ‘Berikan Kepada Saya 10 Pemuda, akan aku Goncang Dunia’. ini ajakan pemuda yang berkualitas,” ujar Michael.

Lagi kata Michael, tantangan era globalisasi kian tidak mudah. Selain skill yang harus mumpuni, penguasaan teknologi informasi untuk meningkatkan nilai tawar pemuda, termasuk dari sisi akademisnya, harus dilakukan segera.

“Tidak bisa hanya menjadi pengguna kemajuan teknologi informasi saja. Itu sama saja kita dikuasai oleh orang lain. Skill dan akademis yang tinggi harus bisa diperoleh dari kemajuan IT saat ini, dan menguasainya,” jelasnya.

Dalam Perayaan HUT ke-56 GAMKI itu, diawali dengan menggelar diskusi isteraktif bertajuk; “Generasi Muda Kristen di Era Milenial”. Selain Michael, hadir sebagai pemateri dalam diskusi tersebut;  Praktisi IT, Ari Widiatmoko dan pemuka agama kristen Pdt, Sapta Siagian. Selain kader dan pengurus, HUT ke-56 GAMKI dihadiri para pemuda dari berbagai organisasi pemuda dan puluhan mahasiswa STT SETIA.

Dalam paparannya, Ari mengatakan bahwa skill yang harus dimiliki pemuda saat ini adalah penguasaan teknologi informasi. Pasalnya, era saat ini masif penggunaan aplikasi berbasis digital.

“Sekarang ini, orang yang menguasai data informasi, dia yang menguasai dunia,” kata pengusaha yang tengah meraih gelar Doktor dari Universitas Indonesia (UI) ini.

Menurut Ari, revolusi industri 4.0 membuat penggunakaan tenaga kerja manusia semakin sedikit karena sudah dikerjakan oleh robot dengan sistem aplikasi digital. Namun, lanjut dia, revolusi industri 4.0 juga membuka peluang kerja lain, yang membutuhkan skill baru yakni Teknologi Informasi (IT) berbasis aplikasi digital.

“Toko Pedia (belanja online menghasilkan omzet 200 miliar per-bulan. Go-Jek yang pendirinya seorang pemuda, pendapatannya saat ini 46 triliun per-tahun mengalahkan Garuda Indonesia (GI), padahal Go-jek tidak punya armada, berbeda dengan GI, hanya mempunyai dan menguasai basis data dengan aplikasi digital,” jelasnya.

Sementara, Sapta Siagian mengajak generasi milineal mengambil bagian dalam pelayanan di gereja untuk melakukan perubahan sesuai dengan tuntutan jaman.

“Pemuda jangan kuasai teknologi kekinian untuk hal yang negatif, misalnya tahunya hanya sibuk bermedsos ria,” ujarnya.

Dikatakan Sapta, melalui gadget atau smartphone, memberikan banyak pilihan gaya hidup. Itu dipercaya turut mendukung para pemuda gereja saat ini dalam mengembangkan kemampuan skill teknis dan akademisnya untuk bisa bersaing secara profesional dalam persaingan global bukan membuang waktu dengan hal yang kurang penting.

Sapta mengatakan, tantangan yang dihadapi pemuda di era milenial dengan kemajuan IT saat ini juga menjadi persoalan tersendiri bagi Gereja. Gereja belum  dapat memberikan kebutuhan, khususnya pada pemuda gereja. Hal itu disebabkan gereja masih menggunakan pemikiran dan pemahaman feodal dan jaman ‘Old’. Dia pun mengajak para Pendeta dan rohaniawan agar tidak melulu menerapkan cara-cara dogmatif kepada kaum muda.

“Selain dogma, juga harus aplikatif. Karena generasi milenial dewasa ini sudah cepat mencari setiap informasi dengan menggunakan gadget-nya, dan itu memberikan efek perubahan di tataran kehidupan sosial,” imbaunya. (ARP)

Baca : Bersama Sejumlah Elemen, FKCNI Akan Judicial Review Permenkumham No. 25 2017

Bagikan Artikel ini !

Related posts

Leave a Comment