Rakyat Papua Baru Merasakan Kehadiran Pemerintah di Era Jokowi

pemerintah

JAKARTA, mediaaras.com — Dalam rangka menjawab tantangan-tantangan multisektoral yang ada di Papua, seperti pembangunan infrastruktur, pembangunan sumber daya manusia dan masalah internasionalisasi isu Papua, ASEAN Study Center FISIP UI menyelenggarakan seminar bertema; “Papua dalam Sorotan: Pendekatan Holistik untuk Papua”. Acara itu bertujuan untuk membahas pendekatan pembangunan yang holistik dan komprehensif dan kebijakan pemerintah di Tanah Papua yang telah, sedang dan akan dilakukan serta tantangan apa saja yang dihadapi.

Diskusi dibuka oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), Dr. Arie Setiabudi Susilo dan dilanjutkan dengan diskusi yang dimoderasi oleh Direktur Eksekutif ASEAN Study Center FISIP UI, Edy Prasetyono. Hadir sebagai pembicara antara lain; Bambang Purwoko (Kepala Gugus Tugas Pokja Papua Universitas Gadjah Mada), Bambang Shergi Laksmono (Direktur Eksekutif Papua Center FISIP Universitas Indonesia), Ifdhal Kasim (Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden), Septinus George Saa (Ketua Lingkar Studi Papua di Inggris) dan Andi Widjajanto (analis pertahanan).

Baca : Jokowi Dinilai Sebagai Komunikator Ulung

Kepala Gugus Tugas Pokja Papua Universitas Gadjah Mada (UGM), Bambang Purwoko mengatakan, masyarakat Papua dan Papua Barat baru merasakan kehadiran Negara di daerahnya pada era Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Baru di era Presiden Jokowi rakyat Papua merasa pemerintah hadir. Di era Presiden sebelumnya, khususnya Orde Baru, pemerintah hadir dalam bentuk ‘Sepatu Lars’ (pendekatan militer), sedangkan di era Presiden Jokowi pemerintah hadir di Papua dalam bentuk ‘Alat Berat’ (pembangunan),” kata Purwoko di hotel Sari Pan Pacific Jakarta, Kamis (28/12) petang.

Pembangunan infrastruktur, menurut Purwoko, harus dibarengi dengan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) di Papua. Pendidikan di Papua harus menjangkau seluruh wilayah, khususnya di wilayah-wilayah terpencil.  “Yang paling tepat untuk mereka adalah Pendidikan yang berbasis lokalitas di Papua,” tambahnya.

“Karena orang tidak bisa belajar dengan baik kalau gizi makanannya buruk” — Bambang Purwoko (UGM)

Baca : Dinilai Tak Wajar, Anies Diprotes Pegiat Pendidikan Terkait Dana Hibah 367 M

Selain itu, lanjut Purwoko, perlu diperhatikan kualitas kesehatan anak sekolah di Papua dengan memperhatikan kualitas gizi makanan. “Karena orang tidak bisa belajar dengan baik kalau gizi makanannya buruk ,” jelasnya.

Selain Purwoko, Mahasiswa Pascasarjana bidang Teknik Material Universitas Birmingham, asal Papua, dan Ketua Lingkar Studi Papua Inggris, Septinus George Saa, yang hadir dalam diskusi tersebut menilai kunjungan yang telah dilakukan oleh Presiden Jokowi selama ini mendapat respon yang positif dikalangan masyarakat Papua.

Menurut dia, Pembangunan infrastruktur yang telah dilakukan Presiden Jokowi di Papua adalah dapat mempermudah hubungan antar masyarakat Papua.

“Presiden Jokowi juga tidak henti-hentinya mensosialisasikan permasalahan gizi dan ekonomi ditanah Papua.”ungkapnya.

Sementara itu, dalam paparannya, Deputi V Kantor Staf Presiden Republik Indonesia, Jaleswari Pramodhawardani mengatakan, kunjungan Jokowi ke Papua selama 8 kali sejak menjabat dari September 2014 menunjukkan komitmen dan perhatian kuat Pemerintahan Jokowi bagi Papua.

“Kehadiran negara di Tanah Papua berusaha diciptakan dengan memenuhi hak-hak asasi manusia masyarakat Papua dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya; tidak melulu urusan HAM selalu merujuk pada kasus-kasus pelanggaran HAM,” paparnya.

Jaleswari juga menekankan pentingnya menyamakan persepsi dalam percakapan mengenai Papua yang berkembang saat ini sebab keadaan era otoriter dengan pemerintahan Jokowi-JK selama tiga tahun ini sangat berbeda.

“Benar bahwa progress mungkin tidak terlihat secara signifikan sesuai harapan publik, namun pemerintah berusaha agar pembangunan di Papua sesuai dengan sasaran bagi masyarakat Papua,” terangnya.

Terkait perhatian Presiden Jokowi terhadap Papua juga diungkapkan oleh analis pertahanan, Andi Widjajanto. Diceritakan oleh Andi saat Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, Jokowi melakukan kampanye pertamanya di Papua, padahal suara pemilih di Papua hanya 3 persen dari total pemilih suara nasional.

“Saat menjadi tim pemenangan Jokowi, saya paparkan tentang persentasi sebaran suara di seluruh wilayah Indonesia, dimana Papua adalah yang paling kecil jumlah suara pemilihnya yakni 3 persen, namun beliau malah memutuskan kampanye pertamanya ke Papua,” ungkapnya. (ARP)

Bagikan Artikel ini !

Related posts

Leave a Comment