Ada Tangan Asing, Awasi Isu Etnis Melanisia Terhadap Papua

melanisia

JAKARTA, mediaaras.com — Analis pertahanan, Andi Widjajanto mengatakan perlu adanya narasi bersama tentang Papua untuk dibawakan ke dunia Internasional. Pasalnya, saat ini tengah terjadi penggiringan opini internasional bahwa suku atau etnis Melanisia sebagai etnis asli di Papua mengacu pada etnis Melanisia yang ada di Pasifik Selatan. Opini tersebut, kata Widjajanto, mengarah pada Papua merdeka.

“Opini internasional itu harus kita awasi. Ada 12 juta suku Melanisia di dunia. 3 berada di Pasific Selatan dan 9 juta ada di Indonesia yakni di Papua, Maluku dan NTT. Bagaimana mungkin yang 9 juta di Indonesia mengikuti yang 3 juta di Pasifik Selatan,” jelas Widjajanto di seminar; “Papua dalam Sorotan: Pendekatan Holistik untuk Papua” yang diselenggarakan oleh ASEAN Study Centre (ASC) Universitas Indonesia di Hotel Sari Pan Pacific, M.H Thamrin, Jakarta, Kamis (28/12) petang.

“Untuk Papua, kita harus memiliki kelincahan, seperti kita menggalang kekuatan untuk Rohingya dan seperti Palestina. Kita harus menggalang dukungan untuk Papua, Papua adalah NKRI,” — Andi Widjajanto, Analis Pertahanan

Menurut Widjajanto, dukungan terhadap pembangunan di Papua harus seperti dukungan masif yang diberikan kepada Palestina dan Rohingya.

“Untuk Papua, kita harus memiliki kelincahan, seperti kita menggalang kekuatan untuk Rohingya dan seperti Palestina. Kita harus menggalang dukungan untuk Papua, Papua adalah NKRI,” imbaunya.

Lagi kata dia, tidak adanya kesepakatan sejarah soal identitas Papua menjadi salah satu masalah. Menurutnya, hal tersebut akan menyulitkan saat akan menceritakan sejarah Papua kepada generasi Y dan Z.

“Yang menjadi PR kita sekarang adalah membuat narasi bersama soal sejarah Papua, tentang identitas Papua. Bagaimana menjelaskan kepada generasi Y, generasi Z. Kenapa tahun 1945, Papua belum menjadi Indonesia, kenapa ada KMB (konferensi meja bundar) di situ dibicarakan tentang Papua, kenapa Bung Karno merancang Dwikora,” terangnya.

Baca : Rakyat Papua Baru Merasakan Kehadiran Pemerintah di Era Jokowi

Dalam kesempatan tersebut, Andi juga melayangkan pujian kepada Presiden Jokowi yang dinilai memiliki visi untuk membangun Papua. Salah satunya adalah perubahan harga BBM yang dulunya Rp120 ribu/liter, kini sudah sama dengan harga BBM di Jakarta.

Dalam kesempatannya, Direktur eksekutif ASC Universitas Indonesia Edy Prasetyono mengatakan bahwa ada banyak masalah di Papua yang semakin lama semakin kuat.

“Mulai dari masalah kesenjangan sosial, pembangunan politik dan keamanan, ada masalah tentang bagaimana isu ini menjadi isu internasional, semakin lama semakin kuat, ada masalah pula politik identitas, macam macam,” ujar Edy.

Edy menuturkan, jangan sampai isu yang beredar tentang Papua bertujuan pada keinginan Papau merdeka, berpisah dari Indonesia. dialog ini bertujuan untuk menjawab masalah sosial di Papua, dan untuk memperkuat posisi Indonesia di mata Internasional.

“Kami ingin menegaskan bahwa kita punya kepentingan yang sama, untuk memperkuat posisi Indonesia di mata Internasional,” tegas Edy.

Dalam rangka menjawab tantangan-tantangan multisektoral yang ada di Papua, seperti pembangunan infrastruktur, pembangunan sumber daya manusia dan masalah internasionalisasi isu Papua, ASEAN Study Center FISIPol UI menyelenggarakan seminar bertema; “Papua dalam Sorotan: Pendekatan Holistik untuk Papua”. Acara itu bertujuan untuk membahas pendekatan pembangunan yang holistik dan komprehensif dan kebijakan pemerintah di Tanah Papua yang telah, sedang dan akan dilakukan serta tantangan apa saja yang dihadapi.

Diskusi dibuka oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), Dr. Arie Setiabudi Susilo dan dilanjutkan dengan diskusi yang dimoderasi oleh Direktur Eksekutif ASEAN Study Center FISIP UI, Edy Prasetyono. Hadir sebagai pembicara antara lain; Bambang Purwoko (Kepala Gugus Tugas Pokja Papua Universitas Gadjah Mada), Bambang Shergi Laksmono (Direktur Eksekutif Papua Center FISIP Universitas Indonesia), Ifdhal Kasim (Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden), Septinus George Saa (Ketua Lingkar Studi Papua di Inggris) dan Andi Widjajanto (analis pertahanan). (ARP)

Bagikan Artikel ini !

Related posts

Leave a Comment