Hanya Satu Saja

mental

Oleh : Lasma MS

Mediaaras.com — Acap kali Dunia terhentak oleh pemberitaan kasus bunuh diri dikalangan artis beken, pengusaha dan kelas papan atas. Aku teringat ketika menyaksikan berita kematian seorang artis beken dari negeri Sakura, Jepang.  Ups?!  Wajah cantik. Kekayaan berlimpah. Masa depan menjanjikan dengan popularitas yang sudah di depan mata. Glamour mengelilingi. Puja-puji fans mengitari. Kesemarakan dan kemewahan tidak asing lagi menjadi gambaran sehari-hari. Menjadi incaran paparazzi. Menjadi buah bibir bagi kawula tua muda dan penggemar. Sempurna.

    “Aku sudah lama mati, sekalipun aku terlihat hidup.” Tulisan akhir yang mengandung misteri dari sang artis. Tidak ada seorang pun yang berhasil menjelaskan dengan rinci permasalahan yang dihadapi sang artis idola dunia tersebut. Sebut saja Jhon Lennon, Marlyn Manroe dan sederetan nama panjang yang mengakhiri hidupnya dengan tragis. Apalagi makna popularitas dan kemewahan?!

     America, demikian nama yang disebut dalam sinema kisah nyata televisi malam. Seorang anak kulit hitam. Tanpa alasan yang jelas ia ditinggalkan sang ibunda yang dikasihinya bersama saudara angkatnya yang tega merebut sebuah permen pemberian ibunya sebagai satu-satunya harta warisan yang dimiliki. Sang ibu berjanji akan kembali sampai ia diangkat oleh sebuah keluarga seorang wanita tua dengan anaknya yang membujang.

    Adopsi merupakan jalan keluar bagi yang terlantar namun bagi America hal ini merupakan  awal kepahitan, ketakutan, ia dilecehkan dan diperlakukan tidak manusiawi dari paman angkatnya hingga menyesakkan dendam kesumat dan mengakhiri  hidup pamannya selagi tertidur. Mujur, sang wanita tua yang mengadopsinya membuat pernyataan yang membebaskan America.

“Hidup ini pilihan. Apakah kau hidup dijalan mati atau di jalan masa depan.” — NN

    Peristiwa ini, menyisakan masa lalu yang senantiasa menghantuinya di rumah penampungan adopsi pemerintah hingga usia 18 tahun. “Aku tidak ingin hidup, aku ingin mati!!”  katanya dengan histeris saat beberapa kali ia kepergok nyaris bunuh diri. Gila! Aneh. itulah julukan yang dilontarkan kepadanya. “Aku tidak ingin hidup, aku ingin mati!!” America mengulangi keinginannya.

   America hidup terpojok, sampai seorang dokter B memberi dia warna hidup, menerima tanpa memojokkan membawanya mengunjungi wanita tua di panti jompo. Orang tua angkat America. Wanita tua itu terharu menyambutnya dan memberikan cincin yang melingkar di jemarinya kepada America.

“America, nenek mengasihimu dan memaafkanmu selamanya!!” America pun menangis dan tertawa kecil bersama wanita tua yang dikasihinya. “Akulah nenekmu dan akulah ibumu.”sambil memeluknya. Pelukan ini, mengubah hidupnya.

 “Hidup ini pilihan. Apakah kau hidup dijalan mati atau di jalan masa depan. America kau harus memilih!” dokter B dengan ketabahan yang panjang berhasil mengubur masa lalu America dan membawa America berjalan di masa depan. Betapa leganya ketika America memilih untuk berjalan ke masa depan.

  “Hanya satu saja orang America, yang saya bisa bawa kejalan yang benar, namun ada banyak anak-anak di dunia ini di usia remaja dan produktif  bebas, di adopsi. Tetapi mereka tidak siap, mereka kembali hidup dijalanan, bergabung bersama Gang, narkoba dan tindakan kriminal dan mati. Namun, satu orang saja saya punya harapan untuk yang lainnya.” Demikian sahut dokter B diakhir kisahnya.

 Ahh! Seandainya saja ada dokter B hadir di setiap tempat dan berhasil berkata : “Hanya satu saja  bisa saya bawa ke jalan yang benar, namun ada banyak anak lainnya yang tidak siap menghadapi kenyataan hidup dan mencari pelarian, mereka hidup dalam ketergantungan narkoba, free sex dan mati. Namun, satu orang saja saya punya harapan untuk yang lainnya!” Semoga. (*)

Baca : Jangan Diejek, Ternyata Tidur Ngiler itu Baik

Bagikan Artikel ini !

Related posts

Leave a Comment